Announcements

Call For Paper: JP108-Perempuan dan Pasar Tenaga Kerja di Indonesia

 
Latar Belakang
Partisipasi perempuan di dalam dunia kerja saat ini bukanlah hal yang asing lagi. Dalam kurun dua puluh tahun terakhir, ILO (International Labour Organization) mencatat terjadinya kemajuan dalam kesetaraan gender di dunia kerja (ILO 2014). Namun, hingga saat ini perempuan masih mengalami ketimpangan gender di dunia kerja. Pasar kerja dan situasi kerja belum sepenuhnya adil gender, perempuan masih menghadapi berbagai hambatan untuk berpartisipasi secara bebas di dalam dunia kerja, dan juga masih menghadapi berbagai ketidakadilan dalam ruang domestik.

Bagaimana situasi perempuan dan ketenagakerjaan di Indonesia? Hingga tahun 2020, ketimpangan gender di dalam bidang ketenagakerjaan di Indonesia masih cukup tinggi. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan pada Agustus 2020 adalah 53,13 persen. Meski terjadi kenaikan sebesar 1.32 persen jika dibandingkan dengan TPAK perempuan di tahun 2019 (51,81%), namun persentase ini masih jauh di bawah TPAK laki-laki di tahun 2020 yaitu sebesar 82,41 persen.  Sementara itu, persentase perempuan yang bekerja paruh waktu justru lebih tinggi yaitu 36 %, dibandingkan dengan laki-laki yang bekerja paruh waktu sebesar 19,39%. Angka statistik ini memperlihatkan bahwa jumlah perempuan yang masuk ke dalam status kerja penuh (full employment) masih jauh di bawah laki-laki. Perempuan juga masih mengalami diskriminasi upah. Hal ini dapat dilihat dari upah buruh perempuan yang lebih rendah dibandingkan buruh laki-laki meski memiliki tingkat pendidikan yang sama, maupun kelompok umur yang sama (BPS 2020).

Ketimpangan gender di dunia kerja tidak dapat dilepaskan dari ketimpangan gender di ruang domestik. Peran reproduksi mengharuskan perempuan untuk hamil dan mengasuh anak, sehingga perempuan yang bekerja di sektor formal memiliki masa kerja yang lebih pendek dibandingkan dengan laki-laki. Pendeknya masa kerja perempuan menyebabkan pekerja perempuan memiliki akses yang lebih rendah terhadap jaminan dan/atau perlindungan ketenagakerjaan. Sehingga pekerja perempuan masih menghadapi berbagai persoalan klasik di dalam dunia kerja seperti: diskriminasi upah, kerentanan dan ketidakpastian kerja (precarious), serta jenis pekerjaan yang kurang dihargai; jika dibandingkan laki-laki di dalam dunia kerja. Sementara itu, jaminan bagi kesejahteraan buruh di Indonesia diperkirakan juga akan cenderung melemah, khususnya pasca pengesahan Undang-undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
 
Karena hambatan sosial untuk bekerja penuh waktu dan/atau di sektor formal, maka banyak perempuan kemudian bekerja di sektor informal. Perempuan kemudian memasuki bidang kerja dalam profesi-profesi feminin, yang secara sosial maupun ekonomi kurang dihargai, seperti pekerja rumah tangga (PRT), industri rumah tangga, buruh tani. Jenis pekerjaan non-formal kemudian menyebabkan perempuan tidak dapat memperoleh perlindungan dan jaminan ketenagakerjaan seperti asuransi dan pensiun.
 
Posted: 2021-02-23 More...
 
1 - 1 of 1 Items