Announcements

Call For Paper: JP 103 Perempuan Perdesaan

 
Pengantar Masalah 
Di negara berkembang, perempuan yang tinggal di daerah perdesaan mewakili sekitar 43% dari tenaga kerja di sektor pertanian (UN Women). Dengan demikian perempuan perdesaan memiliki kontribusi penting dalam memastikan keamanan pangan keluarga dan komunitas serta memperkuat perekonomian negara. Meskipun memiliki peran besar, namun perempuan perdesaan masih menghadapi diskriminasi terkait budaya dan norma sosial yang membuat mereka berada dalam situasi rentan dan buruk.
 
Data yang ada menunjukkan kurang dari 13% pemilik lahan pertanian adalah perempuan (UN Women 2018). Sementara itu rumah tangga yang dikepalai perempuan perdesaan memiliki akses yang lebih terbatas dibandingkan rumah tangga yang dikepalai laki-laki terhadap dalam  mengakses layanan produktif yang dibutuhkan oleh masyarakat perdesaan seperti pupuk, ternak, peralatan, varietas unggul, layanan penyuluhan dan pelatihan pertanian (FAO 2011). Di banyak negara perempuan perdesaan yang bekerja untuk mendapatkan upah lebih mungkin untuk bekerja musiman, paruh waktu dan mendapatkan upah yang rendah dibandingkan laki-laki (FAO 2011).
 
Desa-desa di Indonesia saat ini rentan terhadap gempuran eksploitasi. Desa menjadi arena ekspansi modal seperti pertanian skala luas, perkebunan, kehutanan, perikanan, pertambangan maupun pengavelingan pesisir dan laut. Akibatnya kerusakan lingkungan hidup perdesaan semakin cepat dan meluas. Desa mengalami krisis sosial dan ekologis. Situasi ini semakin parah dengan adanya krisis iklim yang dampaknya dirasakan langsung oleh petani dan nelayan. Dalam situasi krisis semacam ini, perempuan menjadi kelompok yang paling rentan.
 
Posted: 2019-09-09 More...
 
1 - 1 of 1 Items